[C0719041] [Raisha Alifia Rahmani] Penulis Mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual Fakultas Seni Rupa dan Desain

Penerapan Arsitektur di Wilayah Bandung

    1. Latar Belakang



Arsitektur pada dasarnya tersusun dari seperangkat teori dan pernyataan yang membentuk cakupan tersendiri dan penalaran tersendiri. Dalam pandangan ilmu pengetahuan, arsitektur dapat didekatkan pada paradigma, yaitu kumpulan yang kadang-kadang terkait atau didasarkan pada bidang keilmuwan lain. Arsitektur sendiri tersusun dari kesepakatan-kesepakatan bagi para ilmuwannya terhadap teori-teori dan pernyataan yang membentuknya. 

         Dalam merancang ataupun merevitalisasi suatu wilayah, dibutuhkan pengetahuan tentang arsitektur secara rinci agar hasil dari pengerjaannya menjadi maksimal. Maka, kita perlu mengetahui apa saja teori yang digunakan saat membuat suatu rancangan wilayah. Karena itu, saya mengambil contoh dari  arsitektur yang ada di wilayah Bandung dan akan menjelaskan apa saja yang perlu diketahui saat perancangannya.

Secara teoritik pengenalan dan pemahaman terhadap jenis pendekatan dalam perancangan arsitektur sangat diperlukan untuk peningkatan pengalaman berarsitektur. Dalam ke empat jenis pendekatan yang dikemukakan oleh Broadbent, terdapat cara-cara atau teknik-teknik atau kategori metode dalam perancangan arsitektur yang masing-masing jenis memiliki kelebihan dan kekurangannya. Cara-cara atau teknik-teknik dalam proses perancangan arsitektur dikemukakan secara jelas dengan mengungkap pula ciri-ciri khas atau karakteristik masing-masing jenis pendekatan untuk mendapatkan bentuk tiga dimensional dalam arsitektur.  
         
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka secara garis besar penelitian ini berjudul “Penerapan Arsitektur di Wilayah Bandung”.




            2. Tujuan Artikel Ilmiah

a.     Untuk mengetahui cara penerapan arsitektur pada perancangan wilayah di Bandung
b.     Untuk menganalisis berbagai macam penerapan arsitektur yang digunakan di wilayah sekitar Bandung
c.     Untuk mengetahui apa saja yang perlu dianalisis untuk merancang suatu wilayah


            3. Pembahasan

Para arsitek pada dasarnya tidak bertitik tolak dari sebuah teori tertentu ketika merancang melainkan dari keyakinannya masing-masing. Sekalipun sudah meninjau tapak dan situasi disekitarnya serta mempelajari peraturan bangunan dan berbagai standart tipe bangunan yang bersangkutan, mereka berspekulasi dulu saat memulai perancangannya dengan membuat maket-maket studi serta sketsa- sketsa gagasan. Setelah itu mereka mencari dalih yang tepat untuk memilih salah satu dari berbagai pilihan tadi. 

Ketika mulai membuat pra-rancangan, gagasan-gagasan awal tadi boleh jadi tidak tepat lagi. Akan tetapi, mereka tidak akan membuangnya begitu saja melainkan menyempurnakannya dengan jalan melihat berbagai kasus serupa pada berbagai majalah atau jurnal arsitektur. Ketika mencapai tahap pengembangan rancangan, pr-rancangan tadi boleh jadi tidak tepat lagi. Kemudian, mereka mencari landasan teoritis pemecahan teknis tersebut untuk melengkapi gagasan awal tadi. Itulah sebabnya tidak ada satu karyapun buatan arsitek yang sama bahkan ketika mereka saling meniru, dikarenakan metode dan perancangan mereka saling berbeda. 

Dalam mewujudkan karya-karya arsitekturnya, para arsitek atau perancang bangunan memerlukan pengalaman-pengalaman nyata ber-arsitektur yang terkait erat dengan tata-cara, teknik-teknik serta metode dalam kegiatan perancangan arsitekturnya. Tata-cara atau teknik-teknik atau metode dalam kegiatan perancangan arsitektur setidaknya akan mempengaruhi keahlian dan keterampilan dari arsitek untuk melakukan kegiatan perancangan arsitekturnya. 

Pengenalan terhadap pendekatan perancangan arsitektur (the architectural design approachs) didalamnya menyangkut aturan, pedoman, prinsip, serta langkah/tahapan yang perlu dilakukan atau diterapkan dalam kegiatan perancangan arsitektur. Karena itu, mengenal jenis atau macam pendekatan perancangan arsitektur menjadi penting untuk meningkatkan keterampilan dan keahlian dalam berarsitektur.

         Untuk penerapan arsitektur di wilayah Bandung, beberapa contoh yang akan dibahas adalah rancangan dari Taman Peraga dan Eksplorasi Sains Teknologi Bandung, Indie Cinema Centre Bandung, Pusat Pengembangan Industri Kreatif Bandung, Bandung Fashion Hub, dan revitalisasi dari kawasan Braga.

         Pada Taman Peraga dan Eksplorasi Sains Teknologi Bandung, struktur dan konstruksi yang digunakan adalah struktur bangunan melayang yang menganologi dari prinsip rekayasa pesawat terbang dan analogi dari bentuk pesawat saat berada di landasan. 

Sistem struktur bangunan pada taman Peraga dan Eksplorasi Sains Teknologi yang diterapkan adalah sebagai berikut:
1. Upper structure (atap) 
Taman Peraga dan Eksplorasi Sains Teknologi menggunakan struktur Space frame dan struktur baja. Karena kedua struktur ini mampu menaungi ruang dengan bentang lebar. 
2. Super structure (dinding dan kolom) 
Struktur bangunan melayang menggunakan sistem rigid frame yang terdiri dari balok dan kolom. 
3. Sub structure (pondasi)
Pondasi yang tepat digunakan pada Taman Peraga dan Eksplorasi Sains Teknologi adalah pondasi foot plate dan tiang pancang yang mampu mendukung bangunan berlantai 1-3 dengan jenis tanah yang kurang baik. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan arsitektur metafora untuk membuat rancangan Taman Peraga dan Eksplorasi Sains Teknologi ini agar seluruh komponen-komponennya dapat terhubung.


Pada Indie Cinema Centre Bandung, permasalahan yang didapat adalah terbatasnya ruang-ruang publik sebagai sarana dan prasarana yang menunjang kegiatan komunitas perfilman indie. 
Setelah permasalahan ditemukan, dilakukan analisis perencanaan (building concept) yaitu mengidentifikasi masalah yang ada berdasarkan konsep desain. Permasalahan yang terdapat pada Indie Cinema Centre akan diselesaikan dengan pendekatan Arsitektur Berkelanjutan. Arsitektur Berkelanjutan dipilih sebagai tema pendekatan dikarenakan keterkaitannya dengan objek yang berada di Kota Bandung. 
Setelah melakukan analisis pemrograman fungsional & pemrograman performansi dan arsitektural, tahap selanjutnya yaitu melakukan tahap sintesis, yaitu tahap penggabungan dari referensi dan hasil analisa fakta lapangan sehingga akan mendapatkan kesimpulan untuk memperolah konsep perancangan. Kemudian akan ditransformasikan ke bentuk yang diinginkan sesuai dengan tema yang digunakan. Oleh karena itu, dapat digunakan pendekatan Arsitektur Berkelanjutan dalam perancangan Indie Cinema Centre Bandung ini.
      Arsitektur Berkelanjutan juga dapat menjadi batasan dalam perancangan, seperti pemilihan bentuk dasar bangunan, pemilihan material, utilitas dan tampilan bangunan. 


Pada perancangan Pusat Pengembangan Industri Kreatif Bandung, arsitektur dalam hal ini tentu saja diperlukan untuk menciptakan atmosfer yang inspiratif dan kreatif. Hal ini dapat dapat dicapai dengan menghadirkan intervensi fisik suatu ruang yang dapat menimbulkan pemandangan dan kesan yang dramatik dan tidak biasa. Oleh karena itu, penerapan Arsitektur Organik dipilih sebagai pendekatan arsitektural dalam proses perencanaan dan perancangan bangunan pusat pengembangan ekonomi kreatif tersebut. 
Arsitektur Organik merupakan sebuah konsep arsitektur yang diilhami dari alam. Pusat Pengembangan Industri Kreatif yang dirancang akan menghadirkan suatu ruang kreatif di Kota Bandung yang difokuskan pada kegiatan industri desain, industri fashion dan industri barang seni kerajinan. Prinsip-prinsip Arsitektur Organik diaplikasikan pada setiap persoalan desain dan diharapkan dapat mengoptimalkan proses pembelajaran yang terjadi di Pusat Pengembangan Industri Kreatif ini, sehingga dapat meningkatkan kualitas maupun kuantitas sumber daya kreatif Indonesia khususnya Kota Bandung. 
Penerapan Arsitektur Organik dalam perancangan bangunan Pusat Pengembangan Industri Kreatif di Bandung memerlukan perhatian secara menyeluruh baik pada faktor internal maupun eksternal. Faktor internal adalah tentang pelaku dan kegiatan yang diwadahi pada bangunan. Selain faktor internal, bangunan juga memperhatikan faktor eksternal seperti karakteristik lingkungan dan iklim tapak. Oleh karena itu, pendekatan Arsitektur Organik merupakan sebuah metode perancangan yang tepat untuk diterapkan pada perancangan Pusat Pengembangan Industri Kreatif karena sesuai dengan kriteria ruang kreatif untuk memunculkan Atensi, Stimulasi dan Fokus. 


         Pada Bandung Fashion Hub, kebutuhan ruang yang muncul merupakan pertimbangan dari kegiatan yang dilakukan yang dikelompokan kembali berdasarkan karakter kegiatan fashion, yaitu kegiatan forecasting, show off dan market. Dimana sistem kegiatan forecasting diwadahi dalam sekolah fashion, show off dalam ruang gallery dan pameran, dan market dalam ruang retail produk fashion lokal. Bandung Fashion Hub juga berfungsi sebagai ruang rekreasi masyarakat urban dengan bentuk rekreasi edukatif, rekreasi belanja, dan rekreasi komunal dalam ruang publik yang dirancang dalam bangunan ini. Perancangan Bandung Fashion Hub menggunakan pendekatan ekspresif arsitektur dalam pengolahan ide ruang, bentuk dan simbol fashion yang diaplikasikan dalam bangunan. Oleh karena itu, dibutuhkan pengetahuan tentang arsitektur untuk membuat rancangan ruangan yang teratur psda Bandung Fashion Hub.


Pada Kawasan Braga yang saat itu merupakan satu-satunya tempat yang menunjukan lifestyle yang mewah, seiring berjalannya waktu mengalami penurunan kualitas dan kuantitas kawasan. Contohnya seperti parkir liar, bangunan terbengkalai, pembangunan gedung baru yang semerawut dan menjamurnya pusat perbelanjaan baru di Kota Bandung. Tampilan Kawasan Braga menjadi kurang menarik untuk dikunjungi wisatawan. 
Untuk mengembalikan citra Kawasan Braga seperti pada masa kejayaannya, perlu adanya upaya revitalisasi Kawasan Braga agar menjadi kawasan perekonomian dan perdagangan yang ramai oleh wisatawan. Menghidupkan Kawasan Braga dapat dengan cara penataan fisik, baik terhadap bangunan-bangunan tua peninggalan pemerintahan Hindia Belanda maupun infrastrukturnya, seperti pedestrian, street furniture, lalu lintas dan fasilitas-fasilitas penunjang lainnya. Serta penataan non fisik dari pengembangan ekonomi kreatif di Kawasan Braga. Kawasan Braga menjadi penghubung antar kawasan, seperti Kawasan Bandung Utara dengan Kawasan Alun-Alun Bandung. 
Penerapan arsitektur kali ini menggunakan konsep pedestrian mall. Konsep ini diterapkan untuk memberikan nilai tambah kepada pejalan kaki dan pelaku kegiatan lainnya agar lebih nyaman berkegiatan di Kawasan Braga. Konsep pedestrian mall ini membuat lingkungan jalur pejalan kaki dapat dipergunakan untuk berbagai kegiatan, seperti berjalan-jalan, tempat berkumpul atau berkomunikasi, beristirahat dan untuk melakukan kegiatan berbelanja. 


Kesimpulan

Dari hal-hal di atas, diharapkan kita dapat menarik kesimpulan kita sendiri tentang bagaimana sikap kita di dalam menghadapi permasalahan perancangan yang ada. Termasuk di sini adalah dalam membentuk cara kita mendekati permasalahan perancangan kita. 

Pendidikan arsitektur (yang mencakup tentang pendekatan maupun teori arsitektur) dalam hal ini memiliki pengaruh yang sangat besar pada terbentuknya ‘ideologi’ dari para calon perancang. Oleh karena itu, ideologi yang terbentuk bagi para mahasiswa haruslah sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan pertumbuhan arsitektur di Indonesia secara umum, meskipun tiap mahasiswa tidak bisa diharapkan memiliki ideologi yang sama. 

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer